Tuesday, January 3, 2017

Partai Oposisi dan Kekonsistenan dalam Perbedaan Sikap

(Sumber Gambar: Batamtoday.com)
Wakil Ketua DPR RI Koordinator Ekonomi dan Keuangan, Dr., Ir., H. Taufik Kurniawan, M.M. dalam keterangan persnya di laman resmi Facebook DPR RI (1/3/2017) menyatakan bahwa DPR RI mengapresiasi kinerja ekonomi pemerintah. Berdasarkan laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 yang disampaikan Kementerian Keuangan, DPR melihat pemerintah mampu mencapai target APBN sebesar 5% dari target 5.2% yang harus dicapai. Meksipun gejolak ekonomi global masih fluktuatif, namun perekonomian nasional masih terlihat stabil. Hal itu dibuktikan dengan nilai tukar rupiah rata-rata yang menguat sebesar Rp. 13.307 per dollar AS. Taufik Kurniawan yang juga kader Partai Amanat Nasional (PAN) menambahkan bahwa kita mampu merealisasikan belanja negara sebesar Rp. 1.859,5 triliun atau sekitar 89,3 persen.

Sementara itu di lain pihak, Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan (F-Gerindra) mengatakan bahwa pertumbuhan domestik masih diwarnai tren perlambatan dan kualitas pertumbuhan yang belum membaik. Meskipun sudah mencapai 5 persen, namun target pertumbuhan dalam APBN 2016 yang dipatok 5.2 persen tidak tercapai.  Selain itu Heri Gunawan juga mempersoalkan penyerapan tenaga kerja yang belum maksimal. Menurut data Bappenas 2016, pertumbuhan 1 persen hanya mampu menyerap 110.000 tenaga kerja. Menurut Heri Gunawan angka tersebut menunjukkan penurunan dibanding 5 tahun lalu yang mencapai 225.000 serapan tenaga kerja.

Perbedaan sikap yang diperlihatkan antar anggota DPR dalam menilai pemerintah sampai saat ini masih saja terjadi. Perbedaan pendapat memang menjadi suatu hal yang wajar terjadi dalam politik, dimana satu pihak memposisikan diri sebagai partai pendukung pemerintah, sedangkan yang satu lagi bertindak sebagai oposisi. Bahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pernah melakukan hal yang berbeda dari biasanya. Partai yang merupakan pemenang pemilihan legislatif  2014, yang presidennya juga merupakan kader PDIP justru pernah mengkritik Jokowi ketika Jokowi tidak melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri dan lebih memilih Badrodin Haiti. Lama menjadi oposisi di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono membuat kebiasaan mengkritik pemerintah tidak hilang meskipun sudah menjadi partai pemenang.

Kini di era pemerintahan Jokowi, pengkotak-kotakan antara partai pendukung pemerintah yang terdiri dari PDIP, Nasdem, Hanura, PKB, PPP, – disusul PAN, dan Golkar yang baru bergabung – dan partai di luar pemerintah seperti Gerindra, PKS, dan Partai Demokrat masih terus terjadi. Terutama Partai Gerindra yang sejak dari awal konsisten menjadi penyeimbang. Partai Gerindra dan partai di luar pemerintah lainnya akan terus berseberangan dengan pemerintah. Apapun prestasi yang telah dicapai oleh pemerintah, sang oposisi akan selalu menganggap itu adalah sebuah kegagalan atau suatu keberhasilan yang biasa saja. Biarlah kini rakyat yang menilai, mana yang harus diapresiasi dan mana yang bukan prestasi?



Cimanggis, 3 Januari 2017

Duka di Awal Tahun 2017

(Sumber foto: Google/Radarpekalongan.com)
Kemeriahan perayaan pergantian tahun tidak selalu berjalan lancar. Tidak jarang pemberitaan tentang rumah yang terbakar akibat petasan, dan rumah yang dirampok karena si pemilik rumah sedang menikmati liburan akhir tahun kerap menjadi pemberitaan langganan pasca perayaan tahun baru. Begitu juga beberapa kejadian yang terjadi di awal tahun 2017 ini, dunia diwarnai dengan beberapa peristiwa duka yang terjadi di beberapa negara.

Di Turki terjadi peristiwa penembakan tepat beberapa jam setelah perayaan pergantian tahun. Peristiwa itu bermula dari seseorang berpakaian sinterklas membawa senapan masuk ke dalam kelab malam di Reina, Istanbul, Turki dan menembak kerumunan orang yang sedang berkumpul. Akibat peristiwa tersebut dikabarkan 39 orang tewas dan 70 orang luka-luka, 15 korban tewas diantaranya adalah orang asing (Kompas, 1/2/17).

Peristiwa duka di awal tahun juga terjadi di Indonesia. Sebuah kapal motor Zahro Express pengangkut penumpang tujuan Pulau Tidung, Kep. Seribu, Jakarta, terbakar di Teluk Jakarta pada 1 Januari 2017 pukul 08.40 WIB. Peristiwa tersebut diawali dengan ledakan kecil di kamar mesin di dek bawah. Dengan cepat asap mengepul dan membuat para penumpang di kapal tersebut panik dan melompat ke laut. Dikabarkan 23 orang meninggal, 17 orang hilang, 17 orang luka-luka, dan 194 orang selamat.

Rentetan peristiwa yang terjadi di awal tahun 2017 diatas mengingatkan kita agar tetap waspada dimanapun kita berada. Agar kejadian serupa tidak terulang, maka alangkah baiknya kita harus tetap waspada sebelum berpergian menikmati akhir tahun bersama keluarga. Persiapan sebelum pergi berlibur itu penting agar liburan kita menyenangkan. Persiapan seperti memperhatikan travel warning baik dari pemerintah negara setempat atau pemerintah dalam negeri, mengecek ramalan cuaca untuk menghindari cuaca buruk, memastikan rumah terkunci, dan persiapan lainnya yang bisa dilakukan untuk keamanan bersama. Tidak jarang perampokan, kebakaran, teroris, menjadi ancaman yang mengganggu liburan awal tahun.

Jangan lupa untuk bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan pergantian tahun dengan lancar. Disela-sela euforia tahun baru ini, selipkan juga doa untuk mereka yang terkena musibah agar mereka selalu kuat menghadapi ujian hidup yang sedang mereka hadapi. Semoga tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari. 


Cimanggis, 2 Januari 2017

Sunday, January 1, 2017

Tahun Baru 2017: Tahun Penuh Keikhlasan


(Sumber Foto: Vemale.com)
Hari ini adalah hari pertama di tahun 2017. Doa dan harapan selalu menjadi catatan pembuka di setiap awal tahun. Resolusi kerap dijadikan target dalam hidup yang harus dicapai. Namun diantara itu semua, jangan lupa untuk menyelipkan satu kata di setiap resolusi yang kita buat, yaitu IKHLAS. Mungkin setiap kita memiliki versi sendiri-sendiri untuk memaknai tahun 2017 yang akan datang, namun penulis menganggap keikhlasan menjadi kunci penting untuk menjalani kehidupan di tahun 2017.

Untuk para siswa SMA yang sedang mempersiapkan Ujian Nasional (UN) dan ujian perguruan tinggi negeri (SNMPTN/SBMPTN), teruslah berharap agar mendapat hasil yang terbaik. Dimanapun kalian mengenyam pendidikan tinggi, Ikhlaslah dalam menjalani itu semua. Tuhan pasti memiliki rencana yang baik menempatkanmu di universitas yang menerimamu.

Tidak lupa penulis mengingatkan juga kepada teman-teman yang sedang mencari kerja, bertekunlah terus dalam doa, dan teruslah berusaha, sambil jangan lupa ikhlas menerima apapun hasilnya. Baik di tempat dengan gaji yang pas-pasan, lokasi kantor yang jauh, maupun jam kerja yang padat, syukuri saja. Jika kamu bisa bersyukur menerima itu semua, maka sebenarnya kamu sudah ikhlas. Begitu juga untuk teman-teman yang dalam waktu cukup lama belum mendapatkan pekerjaan, percayalah ada rencana lain yang Tuhan persiapkan untuk kita.

Untuk teman-teman yang menanti kehadiran jodoh, hendak menikah atau menunggu kelahiran buah hati, ikhlaskan semua kepada Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan anugerahnya untuk para umatnya di waktu yang tepat. Jangan pernah mengeluh karena ketidakpastian. Justru ketidakpastian itu ada untuk menguji iman kita.

Pesan khusus juga penulis sampaikan untuk para calon kepala daerah yang akan bertanding di Pilkada serentak Februari 2017 mendatang. Terima dengan ikhlas siapapun yang terpilih, terutama untuk para pendukung, jangan ada lagi tindakan anarkis yang meresahkan warga. Ikhlaskan jika calon yang kita jagokan tidak terpilih. Biarkan pilkada serentak tahun ini berjalan dengan aman, damai, dan lancar, dan mulai bangkit untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi di tahun 2017 ini.
Selamat Tahun Baru 2017! Selamat menjalani hidup dengan ikhlas dan menata hidup yang lebih baik di tahun 2017.




Cimanggis, 1 Januari 2017

Friday, December 30, 2016

7 Tahun Haul Gus Dur: Merefleksikan Kembali Ajaran Gus Dur


(Sumber Foto: Kompas.com)

       Menjelang akhir tahun 2016 menjadi hari-hari yang cukup melelahkan bagi bangsa ini. Peristiwa demi peristiwa telah menyita cukup banyak perhatian masyarakat, seperti provokasi, ujaran kebencian, kalimat-kalimat tendensi, berita palsu (
Hoax), dan makian, telah mewarnai lini masa media sosial. Tidak jarang satu sama lain saling menghapus pertemanan hanya karena perbedaan pandangan. Menjamurnya ahli agama dan ahli tafsir dadakan, hadir seakan-akan kemampuannya melebihi seorang agamawan, dan masyarakat seolah menikmati perdebatan soal agama yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Pada tanggal 23 Desember 2016 telah diselenggarakan peringatan Tujuh Tahun Haul Gus Dur di kediaman Keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut dihadiri beberapa tokoh nasional seperti Presiden RI Joko Widodo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantyo,  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Calon Gubernur DKI Jakarta; Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tjahaja Purnama, dan Anis Baswedan, serta para tokoh agamawan seperti Ketua NU Said Aqil Siroj, Ketua KWI Ignatius Suharyo, Pendeta SAE Nababan, Perwakilan dari Umat Budha Banthe Suryanadi Mahatera, Perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia Yanto Jaya, serta kelompok penghayat kepercayaan.

          Peringatan Tujuh Tahun Haul Gus Dur nampak menjadi angin segar ditengah hiruk-pikuknya kondisi bangsa yang dinamis. Melalui peringatan Tujuh Tahun Haul Gus Dur tersebut kita diajak mengingat kembali sosok yang selalu menyerukan sikap inklusif dan pentingnya dialog antar umat beragama. Peringatan tersebut penting untuk dijadikan momentum bagi kita secara pribadi untuk introspeksi diri apakah kita sudah cukup baik sebagai manusia yang beragama?, atau justru lebih buruk dari mereka yang tidak beragama? Apakah semata-mata beragama itu justru hanya membela agama saja, bukan membela mereka yang tertindas oleh penguasa atau mayoritas? Tentu kita juga harus bertanya kepada diri sendiri apakah selama hidup ini kita bermanfaat bagi orang lain, terutama dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita? Pertanyaan inilah yang harus kita tanyakan pada hati nurani masing-masing pribadi.

Kini tujuh tahun sudah Gus Dur tiada, hingga saat ini belum ada lagi sosok yang sama apalagi melebihi kelucuan Gus Dur menghadapi persoalan bangsa yang kian semrawut. Tujuh tahun sudah seorang Guru Bangsa telah pergi. Tokoh yang mengajarkan indahnya toleransi, serta memandang kemajemukan bukan sebagai halangan, melainkan rahmat dari Tuhan yang harus disyukuri. Keberagaman adalah sebuah keniscayaan, bukanlah sebuah ketakutan yang harus dijauhi. Ubah segala bentuk ungkapan kebencian dan menjembatani perbedaan pandangan dengan dialog yang menyejukkan. Bukankah itu yang menjadi cita-cita Gus Dur dan kita semua sebagai bangsa yang majemuk? 


                                                                                                             

Thursday, December 29, 2016

33 Tahun Slank: Dari Slank untuk Indonesia

(Sumber Foto: Instagram.com/najwashihab)

Ada yang berbeda dari acara Mata Najwa pada tanggal 28 Desember 2016. Slank nampak hadir menjadi bintang tamu acara Mata Najwa. Diundangnya Slank di acara Mata Najwa menjadi sesuatu yang baru, karena tidak biasanya acara yang dipandu Najwa Shihab tersebut mengundang sebuah band musik. Ternyata kehadiran Slank di acara tersebut bertepatan dengan ulang tahun Slank yang ke-33.

Seluruh personil Slank nampak hadir malam itu, kecuali Abdee Negara yang berhalangan hadir karena kondisi fisiknya yang masih belum pulih dari sakit. Selain itu ada juga Teten Masduki (Kepala Staff Kepresidenan), Budi Waseso (Kepala BNN), Oppie Andaresta (Penyanyi), Korlap Slankers, dan juga tidak ketinggalan para Slankers juga turut hadir dalam acara tersebut.

Slank sebagai salah satu legenda musik tanah air memang pantas diapresiasi. Pencapaian selama 33 tahun telah membawa Slank menjadi sebuah band yang memiliki pengaruh cukup besar di Indonesia. Slank bukan hanya sebuah band, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran anak-anak muda, gerakan, dan juga gaya hidup bagi sebagian orang. Lantang menyuarakan persoalan bangsa dan ikut ke dalam kampanye politik tidak membuat Slank kehilangan Slankers, Slankers malah justru ikut mendukung apa yang disuarakan oleh Slank.

Narkoba yang pernah menjerat para personil Slank tidak lantas membuat Slank terpuruk dan menyerah dengan keadaan. Semangat hidup yang tinggi berhasil membuat mereka bangkit dari kekelaman. Bahkan saat ini Slank justru memerangi narkoba dengan berbagai cara yang mereka bisa. Slank juga kerap membantu orang-orang yang masih memiliki ketergantungan terhadap narkoba untuk ditampung di dalam sebuah yayasan. Semua pembiayaan ditanggung oleh Slank yang diambil dari uang manggung Slank yang disisihkan khusus untuk para penyandang narkoba yang memiliki keinginan untuk sembuh. Kepedulian Slank terhadap korban ketergantungan narkoba dianggap sebagai sebuah penebusan atas kesalahan yang telah mereka lakukan puluhan tahun lalu yang lalu.

Tidak hanya persoalan narkoba, Slank juga peduli terhadap persoalan bangsa lainnya seperti korupsi, demokrasi, dan lingkungan hidup. Slank juga tidak segan-segan turun ke jalan, dan mendukung mereka yang dianggap membela kepentingan rakyat. Salah satu kontribusi yang dilakukan Slank adalah dengan memberikan nama-nama yang dianggap tepat untuk mengisi posisi menteri kepada Presiden RI Joko Widodo. Slank juga pernah tampil di halaman gedung KPK untuk mendukung KPK dalam menolak revisi UU KPK yang dianggap melemahkan KPK.   

Slank memiliki kemampuan yang piawai dalam menciptakan lagu. Meskipun terkadang penggunaan kata yang dipakai dalam liriknya terdengar ‘aneh’ dan banyak penggunaan idiom-idiom khas Indonesia seperti “Tong-Kosong”, “Bang-Bang Tut”, namun beberapa lagu-lagu yang dibuat oleh Slank selalu kaya makna dan bermakna ganda. Salah satunya dapat didengar pada lagu “Balikin”, yang bisa diartikan untuk seseorang, tetapi juga bisa diartikan untuk narkoba yang merenggut semua apa yang orang punya.

Slank juga aktif mengkritik pemerintahan, dan menyindir kelakuan anggota DPR. Tidak sedikit lirik-lirik lagu Slank diciptakan berdasarkan apa yang menjadi kegalauan bangsa ini. Salah satunya terlihat pada lagu “Seperti Para Koruptor”. Sebagai parlemen jalanan, lirik yang tajam menjadi ‘senjata’ Slank dalam menyuarakan aspirasi mereka sebagai rakyat.

Selamat ulang tahun Slank yang ke-33. Teruslah benyanyi untuk negeri ini, hingga Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar sejahtera!




Cimanggis, 29 Desember 2016

Wednesday, December 28, 2016

Hari Memaafkan Sedunia: Meneladani Sikap Memaafkan Paus Yohanes Paulus II

(Sumber Foto: Washingtontimes.com)
Kalau saya boleh menciptakan Hari Memaafkan Sedunia, maka saya akan memilih tanggal 27 Desember sebagai peringatan Hari Memaafkan Sedunia. Bukan tanpa alasan memilih tanggal tersebut sebagai hari untuk memaafkan satu sama lain, ada beberapa peristiwa penting yang menurut saya menarik di tanggal tersebut. Sebut saja peristiwa Paus Yohanes Paulus II yang memaafkan penembaknya di tahun 1983 dan peristiwa kedatangan Mehmet Ali Agca, sang penembak Paus, ke makam Santo Paus Yohanes Paulus II di tahun 2014.

Pada hari Rabu, 13 Mei 1981, umat Katolik di Roma – bahkan  di seluruh dunia – dikejutkan dengan peristiwa penembakan pemimpin umat Katolik, Paus Yohanes Paulus II. Seorang pria menembak Paus yang pada saat itu sedang berada di atas mobil terbuka. Ternyata percobaan pembunuhan itu dilakukan oleh Mehmet Ali Agca, seorang berkebangsaan Turki yang sehari-harinya melakukan penyelundupan perdagangan antara Turki dan Bulgaria. Akibat dari percobaan pembunuhan itu, Mehmet Ali Agca dihukum penjara 19 tahun di Italia.

Selang dua tahun setelah peristiwa penembakan tersebut, tepatnya dua hari setelah hari natal di tahun 1983, Paus Yohanes Paulus II datang ke penjara tempat Mehmet Ali Agca ditahan untuk menemuinya. Paus Yohanes Paulus II berkali-kali mengatakan bahwa ia telah memaafkan Agca, bahkan dalam sebuah kesempatan, Paus berpesan kepada orang-orang untuk mendoakan Agca yang telah ia maafkan dengan tulus. Tiga puluh satu tahun kemudian, di tanggal yang sama yaitu 27 Desember 2014, sikap yang luar biasa juga ditunjukan oleh Agca. Agca datang meletakan bunga mawar putih di atas makam Paus Yohanes Paulus II. Bunga mawar putih merupakan lambang persahabatan abadi, artinya Agca telah menganggap Paus sebagai sahabatnya.

Apa yang diperlihatkan Paus Yohanes Paulus II dan Agca inilah yang perlu kita teladani di kehidupan kita saat ini. Sikap saling memaafkan, menghindari konflik yang berkepanjangan, menebarkan kasih sayang dan cinta damai inilah yang perlu ditanamkan dalam setiap hati seseorang. Mungkin tidak mudah bagi kita memaafkan orang yang telah melukai kita, namun hati adalah sebuah misteri, tidak ada seorangpun yang tahu isi hati seseorang. Ketika kita mencoba membuka hati kita untuk memaafkan dan mendoakan orang yang bersalah, bukan sesuatu hal yang mustahil jika orang tersebut akan berubah 180 derajat mencintai kita. Selamat Hari Memaafkan Sedunia. Maafkanlah dirimu sendiri, sesamamu, dan orang lain. Maka damai akan senantiasa selalu ada di sekeliling kita.




Cimanggis, 28 Desember 2016

Tuesday, December 27, 2016

Ada Asa di Papua


Sumber Foto: Instagram/Tempodotco
Apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata  “Papua”? Apakah masih ada kesan yang jauh dari kesan positif, seperti daerah yang pelosok/terpencil, orang-orang primitif, minimnya fasilitas, dan segala hal lainnya yang berkaitan dengan SARA? Jika ya, cobalah anda datang ke Ground Floor (GF) Kuningan City, Jakarta Selatan. Anda akan diajak untuk melihat Papua dari sisi yang berbeda.

Pada tanggal 27 – 30 Desember 2016, Tempo, bersama KontraS, dan VOTE (Voice From The East) mengadakan sebuah pameran foto dengan tema “Suara dari Timur: Papuaku, Papuamu?” yang diselenggarakan di Kuningan City, Jakarta Selatan. Beberapa pembicara juga diundang untuk hadir dalam rangkaian acara tersebut antara lain Haris Azhar (KontraS), Arif Zulkifli (Tempo), Glen Fredly, Advokasi Masyarakat Adat, dan beberapa media, kurator, serta fotografer yang ikut berperan dalam proses pengambilan foto tersebut.



Semua foto yang dipamerkan pada pameran kali ini adalah hasil jepretan dari delapan  fotografer Tempo, antara lain Rully Kesuma, Subekti, Tony Hartawan, Dhemas Revianto, M. Iqbal Ichsan, Dian Triyuli H, Frannoto, Pius Erlangga, dan Amston Probel sebagai koordinator. Foto tersebut diambil dari beberapa lokasi di Papua, diantaranya di Timika, Biak, Nabire, Boven Digoel, Fak-Fak, Raja Ampat, Yahukimo, dan Merauke. Pameran tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengabadikan realitas kehidupan masyarakat Papua, namun juga bertujuan untuk menyampaikan pesan damai, kemanusiaan, dan optimisme bahwa, asa, sukacita dan perdamaian adalah sesuatu yang mungkin terjadi di Papua.

Media kerap kali memberitakan Papua tentang kekerasan, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan separatisme. Pemberitaan demi pemberitaan negatif semakin memperlebar jarak persepsi positif kita mengenai Papua. Padahal ada banyak pelajaran hidup yang dapat kita ambil dari kesederhanaan kehidupan masyarakat Papua melalui kearifan lokal yang mereka miliki.

Infrastruktur memang menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat Papua, namun ada yang lebih penting dari sekedar pembangunan infrastruktur semata, yaitu sebuah pengakuan, baik dari pemerintah maupun seluruh komponen masyarakat Indonesia, serta kemauan untuk membangun potensi SDA dan SDM yang ada di Papua untuk kepentingan masa depan mereka. Inilah yang mengakibatkan Papua ingin sekali merdeka dari Indonesia, karena masyarakat Papua menganggap bahwa pemerintah Indonesia tidak memperlakukan mereka seperti wilayah lain di Indonesia.

Mulai saat ini, mari kita ubah cara pandang kita menatap Papua. Papua juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Kalau dulu Soekarno memperjuangkan Papua dari Belanda, maka sekarang adalah tugas kita sebagai penerus bangsa untuk memperjuangkan nasib rakyat Papua agar tetap menjadi bagian dari Indonesia. Mulailah dari hal yang paling sederhana, jadikanlah mereka teman, buat mereka nyaman. Jangan ada lagi diskriminasi, dan intoleransi. Perlahan namun pasti, asa akan terus ada di bumi cenderawasih.




Cimanggis, 27 Desember 2016